Pages

Monday, September 21, 2015

SUKU KATA

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa terdapat suku kata, yaitu vokal dan konsonan. Vokal merupakan suara yang dihasilkan dalam rongga yangh dibentuk oleh bagian atas saluran pernafasan. Konsonan adalah bunyi yang kurang dapat ditangkap tanpa dukungan vokal pendahuluan yang sesudahnya. Vokal terdengar lebih terdengar daripada konsonan, nampaknya hal itu berarti bahwa setiap setiap suku kata berkaitan dengan puncak lengkung keterdengaran.
Suku kata adalh bagian dari kata yang diucapkan satu hembusan napas dan umumnya terdiri atas beeberapa fonem. Kata seperti datang diucapkan dengan dua hembusan napas : satu untuk da- dan satunya lagi untuk –tang­. Karena itu, datang terjadi dari dua suku kata. Tiap – tiap suku terjadi dari dua dan tiga bunyi : [da] dan [taŋ].
Suku kata dalam bahasa Indonesia selalu memiliki vokal yang menjadi puncak suku kata. Puncak itu dapat didahului dan diikuti oleh satu konsonan atau lebih, meskipun dapat terjadi bahwa suku kata hanya terjadi atas satu vokal atau satu vokal dengan satu konsonan. Beberapa contoh suku kata adalah sebagai berikut :
Pergi  → per-gi
Kepergian      → ke-per-gi-an
Ambil → am-bil
Dia     → di-a
Suku kata yang berakhir dengan vokal , (K)V, disebut suku buka dan suku kata yang berakhir pada konsonan, (K) VK, disebut suku tertutup.
Kata dalam bahasa Indonesia  terdiri atas satu suku kata atau lebih, misalnya ban, bantu, membantu, memperbantukan. Betapapun panjangnya suatu kata, wujud suku yang membentuknya mempunyai struktur dan kaidah pembentukan yang sederhana. Suku kata dalam bahasa Indonesia dapat terdiri atas :
1.               Satu vokal
V → a-mal, su-a-tu,tu-
2.               Satu vokal dan satu konsonan
V K →ar-ti, ber-il-mu, ka-il
3.               Satu konsonan dan satu vokal
KV→ pa-sar, sar-ja-na, war-ga
4.               Satu konsonan, satu vokal, dan satu konsonan
KVK→ pak-sa, ke-per-lu-an, pe-san
5.               Dua konsonan dan satu vokal
KKV→slo-gan, pen-dra-ma-an, ko-pra
6.               Dua konsonan, satu vokal dan satu konsonan
KKVK→trak-tor, a-trak-si, kon-trak
7.               Satu konsonan, satu vokal dan dua konsonan
KVKK→teks-til, kon-teks-tu-al, kon-trak
8.               Tiga konsonan dan satu vokal
KKKV→stra-te-gi, stra-ta
9.               Tiga konsonan, satu vokal dan satu konsonan
KKKVK→struk-tur, in-struk-si,strom
10.           Dua konsonan, satu vokal, dan dua konsonan
KKVKK→kom-pleks
11.           Satu konsonan, satu vokal, dan tiga konsonan
KVKKK→korps
12.  Ons=VKK
Kata dalam bahasa Indonesia dibentuk dari gabungan bermacam – macam suku kata seperti yang tercantum di atas. Karena bentuk suku kata yang terdapat pada nomor 6 sampai 11 pada dasarnya berasal dari kata asing, banyak orang menyelipkan fonem /ə/ untuk memisahkan konsonan yang berdekatan. Contoh : slogan, strika, prangko diubah masing – masing menjadi selogan, setrika, perangko.
Kecuali pada kata pungut, bahasa Indonesia tidak memiliki konsonan rangkap pada akhir kata. Karena itu, kata asing yang memiliki ciri itu dipakai dalam bahasa Indonesia sering kali disesuaikan dengan menyisipkan vokal dalam ucapannya atau menghilangkan salah satu konsonannya. Kata mars dan lift kadang – kadang diubah menjadi mares dan lif.
Vokal dan konsonan yang mengisi pola suku kata pada nomor 1 sampai pada nomor 4 pada umumnya adalah vokal dan konsonan apa saja. Namun untuk pola nomor 5 sampai ke nomor 8 macamnya lebih terbatas. Jika dua konsonan terdapat dalam satu suku kata yang sama, maka konsonan yang pertama hanyalah /p/, /b/, /t/, /k/, /g/, /f/, /s/, dan /d/, sedang konsonan yang kedua hanyalah /l/, /r/, /w/, atau /s/, /m/, /n/, /k/ di dalam beberapa kata.
GUGUS KONSONAN
/pl/      pleonasme, pleno, kompleks, taplak.
/bl/      blangko, blambangan, gam-blang
/kl/      klinik, klimaks, klasik
/gl/      global, gladiator, isoglos
/fl/      flamboyan, flanel, flu
/sl/      slogan, slipi
/pr/     pribadi, april, semprot
/br/     brahma, obral,amibruk
/tr/      tragedi, sastra, mitra
/dr/     driama, adres, drastis
/kr/     kristen,akrab, krupuk,mikroskop
/gr/     gram, granat, grafik
/fr/      fragmen, diafragma, frustasi
/sr/      pasrah, Sragen, Sriwijaya
/ps/     psikologi, psikiater, psikolog, pseudo
/ks/     ekstra, eksponen
/dw/   dwifungsi, dwiwarna, dwibahasa
/sw/    swalayan, swasenbada, swasta
/kw/    kwintal, kwitansi
/sp/     spora, spanduk, sponsor
/sm/    smokel
/sn/     snobisme
/sk/     skala, skema, skandal
Jika tiga konsonan berderet dalam suku kata, maka konsonan yang pertama /s/, yang kedua /t/ atau /p/, dan yang ketiga /r/ atau /l/
Contoh :
/str/     strategi, struktur, instruksi
/spr/    sprei
/skr/    skripsi, manuskrip
/skl/    sklerosis
Seperti halnya dengan sistem vokal yang mempunyai diftong dan deretan vokal yang biasa, sistem konsonan yang biasa disamping gugus konsonanseperti yang telah digambarkan di atas. Deretan dua konsonan yang biasa dalan bahasa Indonesia adalah sebagai berikut

 Suku Kata
Setiap kata yang kita ucapkan pada umunya dibangun oleh bunyi-bunyi bahasa, baik berupa bunyi vokal konsonan maupun berupa bunyi semi konsonan. Kata yang dibangun tadi dapat terdiri atas satu segmen atau lebih. Di dalam kajian fonologi segmen tersebut disebut suku. Suku kata merupakan bagian atau unsur pembentuk suku kata. Setiap suku paling tidak harus terdiri atas sebuah bunyi vokal atau merupakan gabungan antara bunyi vokal dan konsonan.
Bunyi vokal di dalam sebuah suku kata merupakan puncak penyaringan atau sonority, sedangkan bunyi konsonan bertindak sebagai lembah suku. Di dalam sebuah suku hanya ada sebuah puncak suku dan puncak ini di tandai dengan bunyi vokal. Lembah suku yang di tandai dengan bunyi konsonan bisa lebih dari satu jumlahnya. Bunyi konsonan yang berada di depan bunyi vokal disebut tumpu suku, sedangkan bunyi konsonan yang berada di belakang bunyi vokal disebut koda suku.
Jumlah suku di dalam sebuah kata dapat dihitung dengan melihat jumlah bunyi vokal yang ada dalam kata itu. Dengan demikian, jika ada kata yang berisi 3 buah bunyi vokal, maka dapat ditentukan bahwa kata itu terdiri atas 3 suku kata saja. Misalnya, kata teler [ tElEr] adalah kata yang terdiri atas dua suku yaitu [tE] dan [lEr]. Masing-masing suku berisi sebuah bunyi vokal, yaitu bunyi [ E ].
Dalam penguraian kata atas suku-sukunya ada beberapa hal yang mesti diperhtikan, antara lain :
1. Jika sebuah konsonan diapit dua vokal maka konsonan tersebut ikut vokal dibelakangnya. Contoh : Ibu menjadi I – bu.
2. Awalan dan akhiran harus dituliskan tercerai dari kata dasarnya.
Contoh :
a). Pelaksanaan, menjadi Pe – lak - sa – na – an
b). Memperbaiki, menjadi Mem – per – ba – ik – i
3. Jika dua konsonan diapit dua vokal, maka kedua vokal tersebut harus diceraikan.
Contoh :
a). Anda, menjadi An – da
b). Bantu, menjadi Ban – tu
2.2 Pola Suku Kata
Jika jumlah suku dan penentuan suku pada sebuah kata dapat ditentukan, maka untuk mengetahui pola persukuannya amat mudah. Pola persukuan diambil dengan merumuskan setiap suku yang ada dalam kata. Bubyi vokal (disingkat : V) dan bunyi konsonan (yang disingkat K) serta bunyi semi konsonan (disingkat ½ K) akan menjadi rumusan pola setiap suku. Bunyi semi konsonan di dalam pola persukuan diberikan rumus ½ K, agar tidak menimbulkan kekaburan di dalam perumusan.
Di dalam bahasa Indonesia ditemukan kata-kata yang setiap sukunya bisa hanya berupa sebuah bunyi vokal, bunyi vokal dengan bunyi semi konsonan, satu vokal dengan sebuah bunyi semi konsonan, satu vokal dengan sebuah bunyi konsonan, dan sebuah vokal dengan dua buah bunyi konsonan. Berdaserkan ketentuan inilah, maka didalam bahasa indonesia ditemukan beberapa jenis pola persukuan. Jenis – jenis vola persukuan itu dapat dilihat dibawah ini.
a) Suku kata berpola V, suku kata ini dibangun olh sebuah bunyi vokal saja sebagai puncak
Contoh :
I + bu [ I ] + [ bu ]
a + nak [ a ] + [na? ]
u + mum [ u ] + [ mUm ]
i + par [ i ] + [ par ]
o + rang [ o ] + ran ]
e + nak [ E ] + [ na? ]
b) Suku kata berpola VK, suku ini dibangun oleh sebuah bunyi vokal sebagai puncak dan sebuah bunyi konsonan sebagai kode.
Contoh :
an + jing [ an ] + [ jIn ]
an + tar [ an ] + [ tar ]
un + tuk [ Un ] + [ tUk ]
am + bil [ am ] + [ bll ]
in + dah [ In ] + [ dah ]
ong + kos [ o n ] + [ kos ]
c) Suku kata berpola KV , suku ini dibangun oleh sebuah bunyi konsonan, sebagai tumpu suku dan sebuah bunyi vokal sebagai puncak.
Contoh :
Pu + nah [ pu ] + [ nah ]
Pu + sing [ pu ] + sIn
mu + al [ mu ] + [ al ]
bi + sul [ bi ] + [ sUl ]
ne + kat [ nE ] + [ kat ]
tu + buh [ tu ] + bUh ]
lu + rus [ lu ] + [ rUs ]
d) Suku kata yang berpola KVK , suku ini dibangun oleh sebuah bunyi konsonan sebagai tumpu suku, sebuah bunyi vokal, sebagai puncak sebuah bunyi konsonan sebagai koda suku.
Contoh :
Pan + tat [ pan ] + [ tat ]
Sum + ber [ sUm ] + [ bor ]
Tun + ber [ tUn ] + [ dUk ]
Lin + tas [ dir ] + [ tas ]
Tak + dir [ tak ] + [ dIr ]
Pin + dah [ pIn ] + dah
Ling + lung [ IIn ] + [ IUn ]
e) Suku kata yang berpola KKV , suku ini dibangun oleh dua buah bunyi konsonan sebagai tumpu suku, dan sebuah bunyi vokl sebagai puncak suku.
Contoh:
Dra + ma [ dra ] + [ ma ]
Gra + tis [ gra ] + [ tis ]
Pro + duk + si [ pro ] + [ duk ] + [ si ]
Gro + gi [ gro ] + [ gi ]
Pra + kar + sa [ pra ] + [ kar ] + [ sa ]
f) Suku kata yang berpola KKVK, suku ini dibangun oleh dua buah bunyi konsonan yang bertindak sebagaitumpu suku, sebuah bunyi vokal sebagai puncaknya dan sebuah bunyi konsonan sebagai koda suku.
Contoh :
Prak + tik [ prak ] + [ tIk ]
Dras + tis [ dras ] + [ tIs ]
Frak + si [ frak ] + [ si ]
Klas + ter [ klas ] + [ ter ]
Klen + teng [ klen ] + [ tEn ]
g) Suku kata yang berpola ½ KV, suku ini dibangun oleh sebuah bunyi semi konsonan sebagai tumpu suku, dan sebuah bunyi vokal sebagai puncak.
Contoh :
Wa + jah [ wa ] + [ jah ]
Ya + kin [ ya ] + [ kIn ]
Wa + ni + ta [ wa ] + [ ni ] + [ ta ]
Ya + tim [ ya ] + [ tim ]
Wa + dam [ wa ] + [ dam ]
h) Suku kata yang berpola ½ KVK, yaitu sebuah suku yang di bangun oleh bunyi semi konsonan sebagai tumpu suku, sebuah bunyi vokal sebagai puncak dan sebuah bunyi konsonan sebagai koda suku. Hal ini dapat dilihat dalam contoh di bawah ini.
Contoh :
Wak + tu [ wak ] + [ tu ]
Sa + wah [ sa ] + [ wah ]
U + ang [ u ] + [ wan ]
Win + du [ win ] + [ du ]
Wi + la + yah [ wi ] + [ la ] + [ yah ]
Pa + yah [ pa ] + [ yah ]
A + yah [ a ] + [ yah ]
i) Suku kata yang berpola KKVKK, yaitu suku kata yang dibangun oleh dua buah bunyi konsonan yang bertindak sebagai tumpu suku, sebuah bunyi vokal sebagai sonarity dan dua buah bunyi konsonan yang bertindak sebagai koda suku. Hal ini dapat dilihat pada contoh berikut.
Contoh :
Trans + mi + gra + si [ trans ] + [ mi ] + [ gra ] + [ si ]
Trans + por [ tras ] + [ por ]

DERETAN KONSONAN
/mp/    em-pat, pimpin, tampuk
/mb/    ambil, gambar, ambang
/nt/     untuk, ganti, pintu
/nd/    indah, pendek, pandang
/nc/     lancar, kunci, kencing
/nj/      janji, banjir, panjang
/ŋk/     engkau, mungkin, bungkuk
/ŋg/     angguk, tinggi, tanggung
/ns/     insaf, insang
/ŋs/     bangsa, angsa, mangsa
/rb/     kerbau, korban, terbang
/rd/     merdeka, merdu, kerdil
/rg/     harga, pergi, sorga
/rj/      kerja, terjang, sarjana
/rm/    permata, cermin, derma
/rn/     warna, purnama, ternak
/rl/      perlu, kerling, kerlip
/rt/      arti, serta, harta
/rk/     terka, perkara, murka
/rs/      bersih, kursi, gersang
/rc/      percaya, karcis, percik
/st/      isteri, pasti, kusta, dusta
/sl/      asli, tuslah, beslit, beslah
/kt/     waktu, dokter, bukti
/ks/     paksa, laksana,seksama
/?d/     takdir
/?n/     laknat, makna, yakni
/?l/      takluk, maklum,taklim
/?r/      makruf, takrif
/?y/     rakyat
/?w/    dakwa, takwa, dakwah
/pt/     sapta, optik, baptis
/ht/     sejahtera, tahta, bahtera
/hk/     bahkan
/hs/     dahsyat
/hb/     sahbandar, tahbis
/hl/      ahli, mahligai, tahlil
/hy/     sembahyang
/hw/    bahwa, syahwat
/sh/     mashur
/mr/    jamrut
/ml/     jumlah, imla
/lm/     ilmu, gulma,palma
/gn/     signal, kognitif
/np/     tanpa
/rh/     gerhana
/sb/     asbak, asbes, tasbih
/sp/     puspa, puspita, aspira, aspal
/sm/    basmi, asmi, resmi
/km/    sukma
/ls/      palsu, pulsa, filsafat, balsem
/lj/       salju, aljabar
/lt/      sultan, salto, simultan
/bd/    sabda, abdi
/gm/    magma, dogma
/hd/    syahdan, syahdu

Dari pola suku kata dan deretan konsonan di atas dapat disimpulkan bahwa jejeran konsonan yang berada diluar kedua kelompok ini akan terasa asing di telinga kita dan akan terucapkan dengan agak tersendat – sendat. Kata seperti kafka dan atdun kelihatan dan terdengar aneh bagi kita, karena deretan konsonan /fk/ dan /td/ tidak terdapat dalam pola urutan konsonan bahasa kita meskipun konsonan /f/, /k/, /t/, dan /d/ masing – masing merupakan fonem bahasa Indonesia.

URAIAN FONEM


Di dalam bahasa tidak terlepas perbedaan – perbedaan bunyi – bunyi bahasa. Ahli fonetik berhenti membedakan bunyi – bunyi bahasa yang berlainan ditentukan oleh kemampuannya sendiri dan kemampuan alat – alat atau biasanya leh tujuan khusus analisisnya. Untuk tujuan – tujuan tertentu mungkin ia ingin menarik perbedaan – perbedaan yang lebih halus daripada untuk tujuan lain. Menurut tingkat kehalusan dalam realisasi kebahasaan yang ingin diperolehnya, ia gunakan apa yang disebut transkripsi.
Pembicaraan tentang transkripsi kasar, sewajarnya membawa pengertian kita terhadap fonem. Bunyi yang secara fonetis berbeda dalam lingkungan yang sama yang berpengaruh membedakan kata – kata yang berlainan, dinyatakan dengan fonem – fonem yang berbeda.
Dalam ilmu bahasa, fonem itu ditulis antara dua garis miring, /…/.Jadi dalam bahasa Indonesia /p/ dan /b/ adalah dua fonem karena kedua bunyi itu membedakan bentuk dan arti.Misalnya:
Pola ------- /pola/
Parang ------ /paraŋ/
Fonem dalam bahasa dapat mempunyai beberapa lafal yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Fonem /p/ dalam bahasa Indonesia,misalnya dapat mempunyai dua macam lafal. Bila berada pada awal kata atau suku kata, fonem itu dilafalkan secara lepas. Pada kata /pola/, misalnya, fonem /p/ diucapkan secara lepas.
Kemudian diikuti oleh fonem /o/. Bila berada pada akhir kata, fonem /p/ tidak diucapkan secara lepas. Bibir kita masih tetap tertutup rapat waktu mengucapkan bunyi ini, misalnya, /suap/, /atap/, dan /katup/. Dengan demikian, fonem /p/ dalam bahasa Indonesia mempunyai dua variasi.
Bahasa Indonesia mempunyai 28 buah satuan bunyi yang terkecil pembeda makna, yang biasa disebut dengan istilah fonem, yang terdiri dari :
a.                6 buah fonem vokal, yaitu : a, i, u, e, ӗ, dan o.
b.               22 buah fonem konsonan, yaitu : b, p, t, d, g, k, s, dll.
Di dalam pertuturan fonem – fonem itu bukan merupakan bunyi – bunyi yang berdiri sendiri – sendiri yang satu terlepas dari yang lain, melainkan merupakan kesatuan bunyi yang lebih besar, misalnya kesatuan suku kata dan kesatuan kata.
Kesatuan – kesatuan fonem itu akan saling mempengaruhi, sehingga ada kemungkinan ucapan suatu fonem berbeda dari satu posisi dan dibandingkan dengan posisi lain.
1.      Lafal vokal /a/
Vokal /a/ dilafalkan dengan cara menarik lidah kebelakang dan kebawah,  disertai dengan menghembuskan udara keluar, sedangkan mulut dibuka lebar – lebar membundar.
2.      Lafal vokal /i/
Vokal /i/ dilafalkan dengan cara menarik lidah kedepan dan keatas,  disertai dengan menghembuskan udara keluar, sedangkan mulut dilebarkan dan tidak membundar.
3.      Lafal vokal /u/
Vokal /u/ dilafalkan dengan cara menarik lidah kebelakang dan keatas,  disertai dengan menghembuskan udara keluar, sedangkan bentuk mulut dibundarkan.
4.      Lafal vokal /e/
Vokal /e/ dilafalkan dengan cara menarik lidah agak kedalam  dan ketengah,  disertai dengan menghembuskan udara keluar, sedangkan bentuk mulut lebih dilebarkan sedikit.
5.      Lafal vokal /ӗ/
Dilafalkan dengan cara menjulurkan lidah kedepan dan ketengah, disertai dengan menghembuskan udara keluar, sedangkan bentuk mulut dilebarkan.
6.      Lafal vokal /o/
Dilafalkan dengan cara menarik lidah jauh kebelakang dan ketengah, disertai dengan menghembuskan udara keluar, sedangkan bentuk mulut dibundarkan.
7.      Lafal konsonan /b/
Konsonan /b/ dilafalkan dengan cara mula – mula mengatupkan kedua belah bibir rapat – rapat. Lalu udara dari dalam diletupkan dengan tiba – tiba sehingga kedua buah bibir itu terlepas.
8.      Lafal konsonan /p/
Konsonan /p/ dilafalkan dengan cara mula – mula mengatupkan kedua buah bibir rapat – rapat lalu udara dari dalam di letupkan dengan tiba – tiba sehingga kedua bibir itu terlepas.
9.      Lafal konsonan /t/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan ujung lidah pada gigi atas,lalu udara diletupkan dengan tiba – tiba sehingga ujung lidah terlepas dari gigi atas itu.
10.  Lafal konsonan /d/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan ujung lidah pada gigi atas, lalu udara diletupkan dengan tiba – tiba sehingga ujung lidah terlepas dari gigi atas itu.
11.  Lafal konsonan /g/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan pangkal lidah pada langit – langit lunak, lalu udara diletupkan dari dalam dengan tiba – tiba sehingga pangkal lidah terlepas dari langit – langit lunak.
12.  Lafal konsonan /k/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan pangkal lidah pada langit – langit lunak. Lalu udara diletupkan dengan tiba – tiba sehingga pangkal lidah terlepas dari langit – langit lunak itu.
13.  Lafal konsonan /f/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempelkan ujung lidah pada gusi gigi atas. Lalu udara dihembuskan keluar secara bergeser.
14.  Lafal konsonan /z/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan ujung lidah pada gusi gigi atas. Lalu udara dihembuskan keluar secara bergeser.
15.  Lafal konsonan /s/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan ujung lidah pada gusi gigi atas.  Lalu udara dihembuskan ke luar secara bergeser.
16.  Lafal konsonan /sy/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan daun lidah pada langit – langit keras. Lalu bunyi ujar dihembuskan keluar secara bergeser. Konsonan /sy/ berasal dari bahasa asing.
17.  Lafal konsonan /kh/
Dilafalkan dengan cara mula – mula mendekatkan pangkal lidah pada langit – langit lunak. Lalu udara dihembuskan keluar secara bergeser. Ucapannya baik pada awal maupun akhir suku kata sama saja.
18.  Lafal konsonan /h/
Dilafalkan dengan cara mula – mula mendekatkan pangkal lidah pada dinding rongga kerongkongan. Lalu udara dihembuskan keluar secara bergeser. Ucapannya baik pada posisi awal ataupun posisi akhir suku kata adalah sama jelasnya.
19.  Lafal konsonan /j/
Dilafalkan mula – mula dengan cara menempatkan daun lidah pada langit – langit keras. Lalu udara dihembuskan ke luar hingga daun lidah terlepas dari langit – langit keras itu. Konsonan /j/ hanya pada posisi awal suku kata saja.
20.  Lafal konsonan /c/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan daun lidah pada langit – langit keras. Lalu udara dihembuskan keluar sehingga lidah terlepas dari langit – langit lunak itu. Konsonan /c/ pada awal suku kata saja.
21.  Lafal konsonan /m/
Dilafalkan mula – mula dengan cara merapatkan kedua belahbibir atas dan bawah. Lalu udara dari dalam dihembuskan keluar dengan cara melalui rongga hidung. Ucapannya pada awal dan akhir suku kata itu sama.
22.  Lafal konsonan /n/
Dilafalkan dengan cara menempatkan ujung lidah pada gigi atas. Lalu udara dari dalam dihembuskan keluar melalui rongga hidung. Ucapannya pada posisi awal maupun akhir sama.
23.  Lafal konsonan /ny/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan daun lidah pada langit – langit keras. Lalu udara dihembuskan ke luar melalui rongga hidung.
24.  Lafal konsonan /ng/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan ujung lidah pada gigi atas. Lalu udara dari dalam dihembuskan keluar melalui rongga hidung.
25.  Lafal konsonan /r/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan ujung lidah pada gusi gigi atas. Lalu udara dihembuskan ke luar dengan menggetarkan ujung lidah itu.
26.  Lafal konsonan /l/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan ujunng lidah pada gusi gigi atas. Lalu udara dihembuskan keluar dengan cara melalui sisi kiri dan kanan lidah itu.
27.  Lafal konsonan /w/
Dilafalkan dengan cara mula – mula merapatkan bibir bawah  dengan bibir atas. Lalu udara dihembuskan ke luar dengan disertai secepatnya melepaskan kedua belah bibir itu sehingga udara dapat keluar dengan bebas.
28.  Lafal konsonan /y/
Dilafalkan dengan cara mula – mula menempatkan daun lidah pada langit – langit keras. Lalu udara dihembuskan ke luar dengan disertai secepatnya melepaskan daun lidah dari langit – langit keras itu, sehingga udara dapat keluar dengan bebas.
Di bawah ini kami berikan cara menguraikan fonem – fonem bahasa. Kami katakan sebuah  cara karena memang ada beberapa macam cara, akan tetapi yang kami kira paling mudah adalah sebagai berikut:
Pertama          : catatlah bunyi – bunyi yang secara fonetis sama atau mirip.
Kedua             : catatlah bunyi – bunyi yang selebihnya.
Ketiga             : dengan kasar kontras, karena lingkungan yang sama atau yang mirip itu sebagai  fonem – fonem yang berlainan.
Keempat         : dengan dasar linkungan yang komplementer anggaplah bunyi – bunyi yang      fonetis mirip itu sebagai fonem yang sama.
Kelima            : anggaplah semua bunyi – bunyi yang terdapat pada hal “kedua” sebagai fonem – fonem tersendiri.
Keenam          : untuk bunyi – bunyi prosodi diberlakukan cara yang sama untuk menguraikannya.

Contoh :
[pagi]               [curaŋ]             [adat]               [kəras]             [paras]
[bagi]               [juraŋ]              [saraŋ]             [təras]              [bəras]
[tari]                [karuŋ]             [seba?]             [lima]               [tanah]
[dari]               [kaluŋ]             [lima]               [səba?]             [tanah]
[kita]                [sŀsal]              [akar]               [sudu]              [timah]
[gita]                [atap]               [seraŋ]             [təŋah]             [hati]

Data di atas itu kits snggsp sebagai data seluruhnya. Sesuai dengan langkah – langkah yang kami sebutkan diatas, dapatlah diberikan disini hasil dari tiap langkah itu:
Pertama          : [p] - [b],[t] - [d],[c] - [j],[k] - [g]
                             [l] - [r],[m] - [n],[n] - [ŋ],[ə] - [ŀ]
                             [ə] - [a].
Kedua              : [s], [h], [i], [u]
Ketiga              : [p] - [b]          : [pagi] - [bagi], jadi /p/ - /b/
                          [t] - [d]          : [tari] - [dari], jadi /t/ - /d/
                          [c] - [j]           : [curaŋ] - [juraŋ], jadi /c/ - /j/
                          [k] - [g]          : [kita] - [gita], jadi /k/ - /g/
                          [l] - [r]            : [akal] - [akar], jadi /l/ - /r/
                          [n] - [ŋ]          : [tanah] - [təŋah], jadi /n/ - /ŋ/
                          [ə] - [a]          : [səraŋ] - [saraŋ], jadi /ə/ - /a/
Keempat          : [ə] - [ŀ]: [seba?] - [sisal]
                                        [səraŋ] - [sisa?]
                                        [təŋah] - [semu]
                                        [bəras]
                                        [kəras]

[ŀ] terdapat pada bunyi sibilan, sedang [ə] dilingkungan – lingkungan yang  lain, jadi keduanya terdapat dalam lingkungan yang komplementer. Karena itu merupakan varian daripada fonem yang sama. Norma fonem ialah /ə/, dengan varian [ə] dan [ŀ]

Kelima             : /s/, /h/, /i/, /u/.
Keenam           : tidak ada. Jadi fonem – fonem bahasa ini ialah : /p, b, t, d, c, k, g, l, r, m, n, ŋ,ə, a, s, h, i, u/

Demikianlah sebuah contoh analisis fonem – fonem suatu bahasa, yang terbatas datanya. Tentulah pekerjaan seorang penyelidik bahasa tidak habis disini saja, melainkan masih banyak hal – hal yang lain yang perlu dikerjakan dan diberitakannya. Sebagai contoh yang lebih lengkap, kami berikan berikut ini apa – apa yang menjadi perhatian suatu analisis fonem – fonem bahasa, yang kami kutip dan terjemahkan dari sebuah tesis mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, FKSS, IKIP Malang Pusat, tentang fonem – fonem bahasa Jawa Bagelen. Tidak semua uraiannya kami berikan disini, melainkan hal – hal yang mungkin bisa dipakai sebagai komplemen dari apa yang telah kami uraikan di atas itu, yaitu tentang struktur suku kata, batas suku kata, pembatasan distribusi varian – varian, sedangkan hal – hal lain kami sebutkan judul bagian – bagiannya saja.
Fonem dalam Bahasa Indonesia
sebelum ditemukan sejumlah fonem dalam bahasa Indonesia terlebih akan dirumuskan mengenai pengertian tentang fonem. Fonem adalah unsur bahasa yang terkecil dan dapat membedakan arti atau makna (Gleason,1961: 9). Berdasarkan definisi diatas maka setiap bunyi bahasa, baik segmental maupun suprasegmental apabila terbukti dapat membedakan arti dapat disebut fonem.
Setiap bunyi bahasa memiliki peluang yang sama untuk menjadi fonem. Namun, tidak semua bunyi bahasa pasti akan menjadi fonem. Bunyi itu harus diuji dengan beberapa pengujian penemuan fonem. Nama fonem, ciri-ciri fonem, dan watak fonem berasal dari bunyi bahasa. Adakalanya jumlah fonem sama dengan jumlah bunyi bahasa, tetapi sangat jarang terjadi. Pada umumnya fonem suatu bahasa lebih sedikit daripada jumlah bunyi suatu bahasa.
Berdasarkan kenyataan, ternyata di dalam bahasa Indonesia hanya ditemukan fonem segmental saja, dan bunyi suprasegmental tidak terbukti dapat membedakan arti. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia tidak ditemukannya fonem suprasegmental. Itulah sebabnya dalam kajian berikut ini hanya dibicarakan fonem segmental bahasa Indonesia yang meliputi fonem vocal, fonem konsonan, dan fonem semi konsonan.

1 Fonem Vokal
Ada lima dalil atau lima prinsip yang dapat diterapkan dalam penentuan fonem-fonem suatu bahasa. Kelima prinsip itu berbunyi sebagai berikut :
a.      Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila berada dalam pasangan minimal merupakan fonem-fonem.
b.      Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila berdistribusi komplementer merupakan sebuah fonem.
c.       Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip apabila bervariasi bebas, merupakan sebuah fonem.
d.      Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, yang berada dalam pasangan mirip merupakan sebuah fonem sendiri-sendiri.
e.      Setiap bunyi bahasa yang berdistribusi lengkap merupakan sebuah fonem.
Di antara kelima dalil diatas, hanya tiga buah dalil yang merupakan dalil yang kuat, yaitu dalil (a), (b), dan (c). dalil (d) dan (e) merupakan dalil yang lemah.
Ada sejumlah pengertian yang harus dipahami didalam dalil-dalil atau didalam prinsip-prinsip diatas. Pengertian-pengertian yang penulis maksudkan , yaitu:
1) Bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip
Dasar yang dipakai untuk menentukan apakah bunyi-bunyi itu mirip secara fonetis ataukah tidak ialah lafal dan daerah artikulasi bunyi itu. Bunyi-bunyi yang dapat dikatakan mirip secara fonetis adalah sebagai berikut :
a) bunyi-bunyi yng lafalnya mirip dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [p] dan [b].
b) bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berdekatan. Misalnya, bunyi [b] dan [d].
c) bunyi-bunyi yang lafalnya jauh berbeda dan seartikulasi. Misalnya, bunyi [b] dan [m].
d) bunyi-bunyi yang lafalnya mirip dan daerah artikulasinya berjauhan. Misalnya, bunyi [m] dan [n].
2) Pasanan Minimal
Pasangan minimal merupakan pasangan dua kata dasar yang artinya berbeda, jumlah dan urutan bunyinya sama, dan didalamnya hanya berbeda satu bunyi. Dari sebuah pasangan minimal hanya dapat diperoleh dua fonem. Misalnya, gali [gali] – kali [kali] adalah pasangan minimal dan dari pasangan minimal ini diperoleh dua fonem, yaitu /g/ dan /k/.
3) Distribusi Komplementer
Bilamana dua bunyi dikatakan berada dalam distribusi yang komplementer atau yang mempunyai distribusi yang komplementer? Untuk dapat mengetahui hal ini, perlu dilihat tempat kedua bunyi tersebut berada. Tempatnya dapat ditentukan dengan melihat jenis bunyi yang mengapitnya atau dapat juga ditentukan dengan melihat jenis suku tempatnya berada. Selanjutnya, yang perlu diperhatikan ialah bahwa kedua bunyi tidak pernah saling tukar tempat. Artinya, kalau bunyi yang satu selalu diapait oleh bunyi desis, maka bunyi yang satunya lagi selalu diapait oleh bunyi yang bukan desis. Apabila dua bunyi telah dapat dibuktikan tempatnya seperti ini, mak berarti kedua bunyi itu berada dalam distri busi komplementer atau keduanya berdistribusi komplementer. Demikian pula, kalau ada dua bunyi yang satu selalu ditemulan pada suku terbuka yang satunya lagi selalu ditemukan pada suku tertutup, maka berarti kedua bunyi itu berada dalam distribusi yang komplementer.